Feeds:
Kiriman
Komen-komen

Archive for Oktober 2007

Yahya Ayyash

Mengenang Sembilan Tahun Kesyahidan Sang Muhandis Hamas

 

يحيى عياش

Lembaran kehidupan yang mencerminkan keteguhan iman, jihad dan perjuangan.

(1) 

من المؤمنين رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتظر وما بدلوا تبديلا

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).
(Qs. Al Ahzab, 33: 23)

 Sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Januari 1996, seorang insinyur yang juga ahli bom dari  nak kandung jihad dan perlawanan Palestina, ikut meramaikan barisan kafilah syuhada’ di tanah suci para nabi, Palestina. Muhandis (insinyur) Yahya Ayyasy—dialah yang mendirikan madrasah jihad untuk menggebleng istisyhadiyun (para pelaku syahid)—gugur dalam sebuah pembunuhan keji terencana dari rezim teroris Israel.

Ketika seorang yang bijak dan jujur akan menulis tentang sejarah Palestina, baik tentang sejarah perjuangan rakyatnya ataupun konflik yang ada di dalamnya, semua pasti akan memposisikan Yahya Ayyasy – atau yang lebih dikenal semasa hidupnya dengan sebutan “sang Insinyur” – sebagai sosok yang sangat menonjol. terlebih setelah membaca tentang perjuangan dan jihadnya dalam membela agama Allah dan negeri Palestina tercinta. Sampai akhirnya ia gugur fi sabilillah demi membela tanah dan bangsa Palestina. Ia rela melakukan semua itu berdasarkan permahamannnya yang begitu mendalam tentang konflik yang terjadi di negeri ini, tanah suci Palestina.

Sejak pertama kali memegang setir kendaraan yang dipenuhi oleh alat peledak, sebagai persembahan untuk rakyat Palestina dan wujud perlawanan total terhadap penjajah Israel yang tidak faham memahami bahasa kecuali rentetan kekerasan demi kekerasan, Yahya Ayyasy telah menyadari apa yang akan menimpa dirinya. Sampai-sampai seluruh komandan (seniornya) merasa kehabisan cara untuk menasehati Yahya Ayyasy, dan akhirnya mereka mengakui seraya berkata, “Apa yang bisa kita lakukan untuk melarang seorang pemuda yang memang rindu dan menghendaki kematian?’‘

“Sang Insinyur”, itulah lambang legenda hakiki perjuangan rakyat Palestina. Sosok mujahid yang telah mampu membunuh rasa prustasi dalam dada rakyat Palestina. Dengan aksinya, dia mampu mereformasi semangat juang seluruh pemuda dan pejuang Palestina. Mampu mengembalikan ruh jihad dalam kehidupan seluruh rakyat yang sedang berjuang dan melakukan perlawanan terhadap penjajah Israel di tanah suci Palestina. Perjuangannya akan selalu ditulis oleh tinta emas, sebuah legenda yang mengisahkan keteguhan seorang pejuang sejati dalam berjihad dalam kondisi sulit sekalipun.

Kisah tentang sosok “Sang Insinyur’’ itu telah masyhur dan sangat terkenal, rasa cinta dan kagum akan selalu tertanam kuat dalam hati teman seperjuangannya. Namannya akan selalu mengiang di telinga setiap orang, akan menghiasi lisan dan bibir setiap manusia yang mengerti sebuah arti perjuangan. Keteguhan dan perjuangannya akan selalu diingat oleh ratusan ribu, bahkan jutaan, orang Islam ketika mereka diterpa berbagai konflik yang terus menerpa bagaikan air bah, ketika ditimpa rasa sakitnya penyiksaan, paksaan dan panjajahan yang tak henti-hentinya menggelayuti langit biru tempat mereka berteduh dari sengatan matahari.

Muhandis Yahya Ayyasy, dikenal memiliki keberanian yang membuat musuh-musuhnya tak berdaya, dikenal memiliki keteguhan yang membuat rakyat Palestina tegar dalam perjuangan. Ia dikenal sebagai ahli strategi, itu ia gunakan untuk membuat balancing kekuatan dan daya perjuangan bangsa Palestina yang hampir pupus di hadapan kekuatan militer Israel yang canggih dan modern. Ia tranfer  system perjuangan dari medan peperangan berskup kecil dan terbatas ke medan perang yang luas dan mencakup seluruh penjuru Palestina. dengan strategi itu, peperangan yang tadinya terjadi antara aktifis Palestina melawan Israel menjadi sebuah palagan yang menghadapkan antara musuh yang takut mati (Israel) dengan pejuang perlawanan rakyat Palestina yang merindukan kematian, demi menggapai kemerdekaan.

Selain itu, ia juga mampu memperkenalkan ‘’rasa” menjadi seorang pejuang sejati kepada rakyat Palestina ketika berada dalam tingkat hamasah (semangat) yang tinggi. Dengan kemampuan seperti itu, Yahya Ayyasy seakan menyendiri dalam perjuangan mengembalikan hamasah (semangat) juang rakyat Palestina yang hampir pupus ditelan kegetiran berhadapan dengan kekuatan militer super canggih. Ia tegaskan di hadapan rakyatnya, bahwa bangsa Palestina masih pantas hidup sehingga tidak layak menggali kuburan sendiri dengan rasa frustasi itu, bahwa frustasi tidak lebih dari sekadar abu yang membuat samar pandangan dan menutupi bara api yang membara di dada bangsa Palestina sendiri.

Dalam usiaya yang realtif pendek, ia telah mampu berbuat banyak bagi bangsa dan rakyat Palestina yang hampir kehilangan rasa perjuangan. Sejak awal terjun ke medan jihad, Yahya Ayyasy sudah sangat mafhum akan kondisi real bangsa Palestina yang lemah dan terkungkung oleh kekuatan raksasa Israel, musuh yang menggunakan kekuatan senjata militer sebagai tameng utama dan kecanggihan intelejen berlapis dalam menghancurkan kekuatan dan potensi perlawanan rakya Palestina yang terjajah. Melihat kondisi seperti itu, sementara waktu sangat mendesak, maka ia  persembahkan hidupnya untuk membela kepentingan agama dan bangsanya. Segera ia bangun kembali pundi-pundi kekuatan bangsa Palestina  yang seperti hidup dalam ‘’kesendirian’’ dan ‘’kesunyian’’ selama beberapa kurun waktu, yang telah memunculkan image bahwa perjuangan itu hanyalah khayalan yang tidak akan menguntungkan mereka, serta tidak akan mengembalikan kemerdekaan mereka yang sudah terampas.

Sejatinya ‘’pribadi yang istimewa’’ ini – kalau melihat pengorbanan, semangat dan kecepatannya melakukan gerakan pembaharuan – sangat berhak untuk mendapatkan penghargaan dari kita semua. Minimal dengan mengkaji lebih mendalam tentang kisah kehidupannya, mengkaji keistimewaan dan kejeniusannya dalam meneruskan perjuangan bangsanya, mengemban risalah jihad fi sabilillah dengan mengorbankan jiwa dan raganya demi menggapai cita-cita kemerdekaan bangsa dan rakyatnya.

Yahya Ayyasy, seorang pemuda yang sangat sederhana. Bahkan terkesan kampungan. Bagi orang biasa pada umumnya yang menyandang gelar sarjana bidang arsitektur – seperti yang ia miliki – pasti lebih mengutamakan mencari pekerjaan di sebuah perusahaan bonafid di luar negeri. Jelas akan memperoleh gaji yang sangat menjajikan. Namun, tidak demikian halnya dengan pahlawan kita ini. Ia justru melupakan kenikmatan duniawi dan fatamorgana itu. Ia  lebih memilih jalan jihad dan muqowamah (perlawanan) untuk membela tanah air tercinta. Hal inilah yang memang sesuai dengan jalan pikiran dan perasaan batinnya. Itu ia buktikan dengan kemampuannya merealisasikan seluruh cita-citanya dalam bentuk sebuah aksi perlawanan total terhadap penjajah Israel.

Yang dicatat dalam perjalanan sejarah bukanlah cita-cita Ir Yahya Ayyasy, walaupun pada akhirnya sejarah selalu mencatat semua pahlawannya. Pun ia bukanlah bintang bersinar yang sedang mencari popularitas, walaupun pada realitanya manusia selalu mengagumi pahlawan mereka, dengan mengingat dan menyanjungnya. Semua orang akan selalu mengingat kegagahan pahlawan yang mampu mengubah warna kehidupan rakyatnya. Bahkan lebih jauh dari itu, mampu meninggikan Islam dan kalimat Allah SWT. Itu semua karena memang dalam faktanya, para pejuang, komandan dan pahlawan Hamas  bukanlah pejuang yang lahir secara “kebetulan”. Bukan pula pejuang yang lahir menumpang sebuah moment penting. Tetapi mereka adalah pejuang sejati yang lahir dari kesigapan dan kesiapan mental dan intelektual untuk melaksanakan tugas mereka sebagai pahlawan, yang berjuang melawan musuh bersama terbitnya matahari.

(2)

“Kami sudah melepaskan semua status Yahya Ayyasy tanpa kami tinggalkan sedikitpun dalam hati kami, sejak ia menjadi orang nomor satu yang kalian buru. Sesungguhnya Yahya Ayyasy bukan lagi anakku, melainkan ia sudah menjadi anak kandung Brigade Izzuddin al Qassam. Maka carilah di sana kalau kalian berani.” (Ibunda Sang Muhandis)

 

Perjalanan Kehidupan Sang Muhandis

Di sudut kota Rafat, pada tanggal 6 Maret 1966 M, lahir seorang bayi yang kemudian diberi nama Yahya Abdullathif Sathi Ayyasy. Ayyasy kecil tumbuh di pangkuan keluarga yang patuh beragama (multazim), sehingga ia melewati masa kecilnya dengan penuh ketenangan dan kasih sayang, ia pun dikenal sebagai anak yang sopan dan kalem. Sampai-sampai salah seorang pamannya pernah mengatakan, “Anak ini sangat kalem sekali, tidak terlalu suka bergaul dengan anak-anak sebayanya, dia agak tertutup.”

Ketika Ayyasy kecil mulai tumbuh besar dan usianya genap 6 tahun, ia masuk sekolah dasar di kampung halamannya hingga sekolah menengah. Di sekolah, semua guru sangat kagum dengan kejeniusan Ayyasy kecil, ia sangat lain dari teman-teman sekelasnya. Ketika masih kelas satu, ia tidak hanya mampu menguasai pelajaran kelas satu saja, namun juga mampu menguasai pelajaran kelas dua.

Ayyasy berhasil menyelesaikan studinya di tingkat SMU di Badya pada tahun 1984 dengan nilai komulatif 92,8%. Selepas lulus SMU, Ayyasy masuk melanjutkan di Universitas Beir Zeit fakultas Teknik Kelistrikan. Ia termasuk mahasiswa yang paling aktif di fakultasnya, banyak berpartisipasi dalam gerakan Islam. Ia juga sering aktif terlibat dalam bentrokan langsung atau tidak langsung, baik dengan sesama mahasiswa ataupun dengan pihak keamanan Israel.

Ayyasy lulus dari Universitas Beir Zeit pada tahun 1991 dengan nilai cumlaoude. Selanjutnya ia menikah dengan anak bibinya pada tanggal 9 September 1992 M. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniahi anak pertama bernama Barra yang lahir pada tanggal 1 Januari 1993. Ketika itu Ayyasy berada dalam pengasingan. Dua hari sebelum ia gugur syahid, anak keduanya lahir diberi nama Abdullathif dengan mengambil nama kakeknya. Namun ketika ia syahid dan dibawa kerumahnya, anak keduanya itu akhirnya diberi nama Yahya.

Syeikhul Ikhwan di Rafat

Muhandis Yahya Ayyasy telah bergabung dengan Ikhwan Muslimin selepas lulus dari SMU. Setelah dibaiat pada tahun 1985, ia dikenal sebagai prajurit (jundi) yang sangat patuh, meski statusnya masih sebagai anggota biasa Ikhwan Muslimin, di sebuah kelompok Ikhwan di kota Ramallah. Dalam kelompoknya, Sang Muhandis dikenal sebagai pekerja keras dan ulet dengan setumpuk tugas dakwah, baik di dalam kampus ataupun di kota Ramallah dan kampungnya sendiri, Rafat.

Ia bahkan menggunakan kendaraan orang tuannya yang dibeli khusus untuk membantu memperlancar aktifitas gerakan Hamas di Rafat. Ketika memulai aktifitas dakwah di Rafat, yang pertama ia lakukan adalah melakukan konsolidasi dan pemantapan pondasi-pondasi bagi kader dakwah. Mereka terdiri dari pemuda-pemuda potensial dan teman-teman kampung halamannya. Mereka bergerak dalam sebuah wadah yang terorganisasi rapi. Sampai terbentuk sebuah wadah yang pasti bagi kaderisasi dakwah di Rafat. Ketika Gerakan Perlawanan Islam Hamas membidani lahirnya Intifadhoh pertama, perkumpulan yang dibentuk Sang Muhandis menjadi ujung tombak Intifadhoh. Bahkan bisa dikatakan sebagai kelompok andalan dalam perlawanan Intifadhoh Palestina.

Selain mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam mengembangkan dakwah di Rafat, sifat bijak, akhlaq dan kesopanan Sang Muhandis membuat rakyat Palestina menggelarinya “Syeikhul Ikhwan di Rafat”. Karena, senyatanya dari tahun 1988 sampai tahun 1992 setiap masalah, konflik dan permasalahan yang muncul di daerah itu selalu dirujukkan kepada Sang Muhandis, Yahya Ayyasy.

Anak Kandung Brigade Izzuddin al Qassam

Sebenarnya, Yahya Ayyasy mulai aktif berperan dalam aktifitas yang bersifat militer pada saat Intifadhoh yang pertama meletus, khususnya pada tahun 1990 – 1991. Saat itu ia berhasil mendapatkan solusi  tepat ketika Hamas kesulitan mendapatkan bahan peledak. Ia berhasil membuat bahan peledak sendiri dari bahan-bahan kimia dasar yang banyak terdapat di warung-warung obat, apotik dan klinik umum. Ketika bahan peledak sudah siap maka operasi bom syahadah berarti 75 persen sudah siap, tinggal mendapatkan kendaraan yang akan diisi penuh oleh bahan peledak, dan juga tombol kendalinya. Setelah upaya ini dirasa telah sukses, episode selanjutnya adalah drama kucing-kucingan dan adu strategi antara Sang Muhandis dan  militer Israel.

Bermula ketika militer Israel secara kebetulan menemukan mobil yang dipenuhi bahan peledak yang siap untuk dioperasikan. Setelah menangkap beberapa orang dan melakukan intograsi ketat, akhirnya agen Syabak (Dinas Intelijen Dalam Negeri Israel) dari militer Israel untuk pertama kalinya memasukan nama Yahya Ayyasy dalam daftar orang-orang yang diburu pihak keamanan Israel.

Pada tanggal 25 April 1993, Sang Muhandis memutuskan kabur dari rumahnya. Itu dilakukan setelah semakin keras upaya penangkapan oleh pihak militer Israel atas dirinya. Prediksi Yahya Ayyasy memang sangat tepat, karena pada sore harinya, satu kekuatan besar militer Israel mendatangi rumahnya dan melakukan penggeledahan sampai memeriksa ruang bawah rumah tersebut. Ketika tidak berhasil menemukan Sang Muhandis, militer Israel dengan biadab menghancurkan sebagian harta milik pribadi Yahya Ayyasy. Sejak saat itu, Yahya Ayyasy memulai kehidupan baru. Ia hidup dalam pelarian dan pengasingan untuk melangsungkan jihad dan perlawanan terhadap penjajah Israel.

Karena tidak berhasil menemukan Yahya Ayyasy, salah seorang perwira agen Syabak yang ikut serta dalam aksi tersebut mengambil photo Jawwad Abu Salmiyah, salah satu teman akrab Yahya Ayyasy yang sudah syahid. Yahya Ayyasy memang selalu menyimpan dan  menjaga photo temannya itu dengan sangat hati-hati. Setelah mendapatkan photo temannya perwira israel tadi lantas menghampiri bapak Sang Muhandis seraya berkata penuh ancaman, “Katakan kepada anakmu, Yahya Ayyasy! Ia harus menyerahkan diri, atau kalau tidak maka kami akan menghancurkan rumah kalian di depan mata kalian sendiri.”

Sejak saat itu ancaman dan terror terus ditebar oleh militer Israel, khususnya dari kasatuan intelejen Syabak kepada keluarga Sang Muhandis dan seluruh penduduk kampung tempat tinggalnya. Strategi ini dilakukan untuk menjatuhkan mental warga kampung Rafat dan keluarga Sang Muhandis, agar mau memberitahukan tempat dan keberadaannya. Strategi ini pun diharapkan dapat memaksa Yahya Ayyasy mundur dari kancah jihad dan perjuangan, karena khawatir terhadap keluarganya. Namuan ternyata prediksi militer israel kali ini salah total, strategi mereka tidak ampuh membuat warga kampung dan juga keluarga Yahya Ayyasy gentar dan takut. Malah sebaliknya, mampu meyakinkan warga kampung Rafat dan bahkan seluruh rakyat Palestina untuk tidak gentar melakukan perlawanan dan jihad fi sabilillah, sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kemerdekaan yang dirampas Israel. Kesemangatan semacam itu telah mengembalikan rasa percaya diri rakyat Palestina untuk terus berjuang.

Selama hampir tiga tahun lebih, kiprah jihad Sang Muhandis telah mengalirkan madu perjuangan bagi bangsa Palestina dan menambatkan buah racun di tubuh zionis Israel. Mereka salah total dalam menggunakan strategi pencarian Yahya Ayyasy. Mereka selalu mengalami kegagalan demi kegagalan, hari demi hari. Kebanggaan mereka terhadap badan intelejen sekaliber Syabak mulai terkikis, mulai meragukan eksistensi Syabak bahkan seluruh  kesatuan militer Israel. Bahkan mereka sempat mendapat malu yang sangat, ketika pada suatu hari mengadakan penggeledahan di rumah Yahya Ayyasy – setelah aksi bom bunuh diri Sholih Shawi di Tel Aviv – dan menekan keluarganya dengan mengancam ibunda Yahya Ayyasy. Namun yang dia dapati adalah hal di luar dugaan, dengan bangga dan penuh percaya diri ibunda Sang muhandis berkata, “Kami sudah melepaskan semua status Yahya Ayyasy tanpa kami tinggalkan sedikitpun dalam hati kami, sejak ia menjadi orang nomor satu yang kalian buru. Sesungguhnya Yahya Ayyasy bukan lagi anakku, melainkan ia sudah menjadi anak kandung Brigade Izzuddin al Qassam. Maka carilah di sana kalau kalian berani.” Dan ternyata, perkataan ibunda Sang Muhandis ini sempat menjadi berita besar koran ternama Israel, Yedeot Aharonot.

(3)

“Aku bernadzar kepada Allah bahwa diriku adalah untuk Allah, kemudian untuk agama Islam. Maka tidak ada pilihan bagiku kecuali kemenangan atau mati syahid, karena perang melawan Israel itu harus terus berlanjut sampai semua orang Yahudi keluar dari setiap jengkal tanah Palestina.”
(Muhandis Yahya Ayyasy)

Memetik Pelajaran dari Sang Muhandis

Dasar Akidah dan Iman

Kondisi bi’ah (lingkungan) tempat seseorang tumbuh dan berkembang berkembang yang dipenuhi dengan nuansa keagamaan dan akidah yang kuat, punya pengaruh sangat signifikan dalam membentuk jiwa seseorang yang siap rela mengorbankan diri, jiwa dan hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Dengan bi’ah seperti itu, maka jiwa seseorang akan memiliki pondasi iman yang kokoh dan kuat yang menjalar dalam seluruh tubuhnya, akan tumbuh subur dalam jiwanya sikap dan sifat terpuji seperti keikhlasan, kejujuran, tawakkal dan budi pekerti luhur. Itulah bekal utama seseorang yang ingin mendapatkan syahid fi sabilillah dan keteladanan yang dicatat oleh sejarah.

Meskipun Yahya Ayyasy telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya, ia sudah menorehkan keberhasilannya untuk sampai dipuncak perjuangan dan kemenangan dalam jalan kehidupannya yang abadi. Meski begitu, sesungguhnya kita mempunyai kewajiban lain terhadap kisah perjalanannya, yaitu dengan mengikuti jejak jihadnya yang didasari oleh keimanan yang kokoh dan keteguhan hati yang matang. Kita juga harus mengikuti jejak kehidupannya yang dipenuhi dengan pelbagai pelajaran berharga yang sangat mudah bagi kita untuk mengikutinya. Juga mengikuti jejak pejuang besar nan abadi di tanah Palestina, dengan meneruskan jejak perjuangannya. Keberadaan Yahya Ayyasy mengindikasikan bahwa umat ini masih mampu mengeluarkan “produk” yang unggul, menghasilkan seorang pejuang yang bisa menyinarkan secercah  cahaya sebagai penunjuk jalan bagi masa depan umat Islam. Dengan pondasi akidah dan iman yang kokoh, umat Islam bisa melahirkan pejuang yang besar sekelas Yahya Ayyasy yang bisa dijadikan sebagai sinar penunjuk kepada jalan kebenaran yang bisa diikuti oleh segenap umat Islam.

Penjelasan berikut menegaskan tentang syakhshiyah (kepribadian) Sang Muhandis. Pertama, gabungan sikap wara’ dan takwa dengan kesucian ruhiyah dan kesederhanaan jiwa tertanam menyatu dalam kepribadian Sang Muhandis. Seorang Pemuda yang begitu ta’at kepada perintah Allah SWT dengan melakukan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketaatan itu bisa terlihat dari kabiasaannya membaca Al Qur-an yang dilakukan secara rutin dan kontinyu, serta berusaha untuk menghafal dan menghayatinya. Dari kebiasaan menghayati Al Qur-an itulah muncul sebuah tekad dan kemauan yang kuat dan tanpa ragu untuk terus berjalan di atas jalan jihad fi sabilillah, walaupun kekuatan musuh terus menghadang.

Kedua, Muhandis Yahya Ayyasy adalah  seorang sosok pribadi dan gaul. Ia selalu bersemangat dalam hidupnya, selalu mengunjungi teman-temannya, bersilaturahmi dengan seluruh koleganya. Juga dikenal sebagai pribadi yang mencintai dan menyayangi sesamanya. Dalam kesehariannya, Yahya Ayyasy sangat dikenal dengan sikap tanggung jawabnya dengan melaksanakan seluruh tugas dan kewajiban yang dibebankan di pundaknya. Itu bukan berarti Ayyasy adalah orang yang suci, namun ia hanya berusaha untuk menjauhi suasana lingkungan yang sudah terkontaminasi oleh “virus” budaya yang terkena polusi.

Ketiga, Muhandis Yahya Ayyasy selalu mengarahkan kehidupan dunianya untuk melakukan kebajikan semata. Ia memposisikan itu sebagai wasilah dan perantara untuk mencapai ridho Allah semata. Dari pemahaman seperti itulah, akhirnya ia selalu membantu setiap orang yang datang kepadanya meminta uluran tangan dan bantuannya. Keempat, Muhandis Yahya Ayyasy juga dikenal sebagai orang yang toleran dalam kesehariannya, baik di lingkungan rumah, kampus maupun kampung halamnnya. Ini terbukti bahwa ia tidak pernah dendam kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Kelima, ia juga mempunyai sikap yang kalem, bijaksana, teliti dan hati-hati dalam memutuskan setiap permasalahan. Saking telitinya, ia bagaikan menyelami semua permasalahan yang muncul sampai ke akar-akarnya. Itu semua dilakukan hanya untuk mencapai ridha Allah SWT, untuk menggapai posisi para Nabi-Nabi, Shidiqin dan syuhada.

Dan kelima, nampaknya, Muhandis Yahya Ayyasy tidak pernah merasakan kenikmatan dunia dan kemewahannya. Itu karena ia dikenal memiliki sikap iffah (menjaga diri) dan zuhud, tidak pernah mengharapkan apapun kecuali ridha Allah SWT. Bahkan ketika Hamas – tempat di mana ia mencurahkan segala aktifitasnya – mengirim uang untuk membantu kebutuhan keluarganya, ia kembalikan uang tersebut dengan nada marah, “Menyangkut masalah uang yang kalian kirimkan kepadaku, apakah uang itu sebagai balasan dari apa yang telah aku lakukan selama ini? Ketahuilah, aku tidak pernah mengharapkan balasan dari semua ini kecuali kepada Allah SWT. Aku memilih jalan jihad bukan untuk mendapatkan materi, sebab kalau aku menginginkan materi aku tidak akan pernah memilih jalan jihad ini. Janganlah kalian terlalu memperhatikanku, perhatikanlah kebutuhan keluarga syuhada’ dan para tahanan politik. Sungguh, mereka lebih membutuhkan bantuan kalian daripada aku dan keluargaku”.

Dan karena ia tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah dan sorganya, maka ia selalu melakukan pekerjaannya secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, jauh dari publikasi media dan kepentingan pribadi untuk mendapatkan popularitas. Kebiasaan untuk merahasiakan aksi itu mampu meminimalisir kegagalan rencana aksi yang ia lakukan, serta dapat meningkatkan ketajaman sasaran. Semua itu ia lakukan berdasarkan kesadaran dan kajian yang mendalam tentang makna sirriyyah (rahasia) dalam sebuah gerakan. Itu juga timbul dari pemahaman, bahwa pekerjaan yang ia lakukan menuntut waktu yang banyak dan keikhlasan yang tinggi untuk mencapai cita-cita dalam menghadapi konflik dengan penjajah.

Sekiranya Muhandis Yahya Ayyasy ingin melaksanakan aksinya dengan cepat, ia pasti mampu merealisasikan. Itu ia buktikan dengan hasil karya aksi jihad yang ia persembahkan, bukan hanya sekadar perkataan lisan. Karena pada hakikatnya ketika beraksi, ia telah mewakili sebuah organisasi dan sejarah, bukan mengatasnamakan dirinya. Tetapi sekali lagi, ia tidak menghendaki popularitas dari kesuksesan jihadnya. Ia hanya menginginkan balasan dari Allah SWT, dengan selalu mengulang-ngulang sebuah ayat al Qur-an, wamaa romaita idz ramaita walaakinnallaha romaa: dan bukanlah kamu yang melempar ketika kamu melempar, namun Allah lah yang melempar.

Al Sirriyyah Wal Kitman

Merahasiakan sesuatu merupakan suatu kebiasaan alami dalam kehidupan pribadi Yahya Ayyasy. Juga salah satu strategi dalam setiap amal dan aksi yang ia lakukan. Itu semua   didasarkan  kepada sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersabda, ista’iinu ‘alaa qodhooi hawaaijikum bil kitman: mintalah pertolongan dalam menyelesaikan urusan kalian dengan kitman (menutup-nutupi amal-kerja yang dilakukan). Muhandis Yahya Ayyasy, dan juga anggota pasukan berani mati Brigade Izzuddin Al Qassam lainnya, selalu bekerja dan beraksi dengan system rahasia (sirriyyah) dan ditutup-tutupi (kitman). Itu sudah menjadi kebijakan dasar dalam seluruh kegiatan dan aksi mereka. Itu semua untuk mengantisipasi agar rencana aksi dan aktifitas mereka tidak bocor ke tangan intelejen musuh sehingga rencana aksi gagal sebelum dilaksanakan. Dari pengalaman, keberhasilan pihak israel menggagalkan aksi yang mereka lakukan disebabkan oleh karena intelejen Israel berhasil mencuri informasi dari para mata-matanya.

Jihad adalah salah satu kewajiban kita umat Islam. Namun menggagalkan rencana jihad adalah strategi Zionis dan dunia internasional. Apalagi kini Islam telah dicap sebagai musuh nomor wahid bagi tatanan militer internasional dalam abad modern dan seluruh jaringannya. Dalam situasi seperti ini, maka kebiasaan Sang Muhandis dan pejuang lainnya untuk selalu merahasiakan gerakannya merupakan keharusan bagi kita untuk mengikutinya.

Meloloskan Diri Dari Intaian Musuh

Termasuk kecerdikan Sang Muhandis adalah kemampuannya menghadapi para penjajah, kelihaiannya bersembunyi dan meloloskan diri dari intaian ribuan mata-mata intelejen dan militer Israel yang dipilih dari kesatuan khusus militer Israel. Serta kemampuannya meloloskan diri dari pengawasan polisi penjaga perbatasan yang dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih, juga anggota intelejen Syabak yang tersebar di setiap sudut kota. Mereka dikerahkan untuk melancarkan kebijakan rezim penjajah Israel yang memutuskan untuk mengasingkan Sang Muhandis. Itu dilakukan karena mereka kesullitan untuk menangkapnya. Karenanya, tidak mengherankan kalau intelejen Israel menggelarinya sebagai “Al ‘Abqory” (Sang Jenius), “Carlos Tsa’lab” (Carlos Sang Srigala, seorang mafia asal Italia yang kesohor dengan kecerdikannya, selalu lolos dari kejaran polisi Italia) dan “Rajulun Bialfi Wajhin” (lelaki dengan seribu wajah). Selain itu, militer Israel juga biasa menyebutnya dengan sebutan “ar Rajulul Muqaddas” (lelaki suci) atau “ar Rajulu Dzu Sab’ati Arwahin” (lelaki dengan tujuh nyawa)  yang terkadang tidak kelihatan oleh orang lain.

Sebenarnya, semua gelar dan sebutan yang mereka berikan itu hanyalah upaya untuk menyembunyikan ketidakmampuan intelejen Israel menangkap Sang Muhandis. Karena militer Israel dan segenap perangkatnya telah berusaha memburu dan mencarinya selama empat tahun dan selalu gagal. Sementara  dalam jenjang waktu itu, Sang Mujahid Yahya Ayyasy selalu melakukan aksi tanpa henti. Dalam kurun waktu itu pula, ia kirimkan jiwa-jiwa perindu sorga  ke segenap penjuru dan setiap waktu di dalam entitas Yahudi israel. Dan itu dilakukan secara tiba-tiba. Mereka (Israel) selalu dihebohkan oleh ledakan-ledakan bom yang membuat mereka kalang kabut. Dan saat itu, setiap ada ledakan bom di target Yahudi Israel, mereka hanya bisa mengkambing hitamkan sekelompok organisasi jihad. Dan setiap kali terjadi ledakan, militer Israel dan petinggi Syabak selalu mengatakan bahwa Yahya Ayyasy tidak bisa ditemukan, karena berada dalam persembunyian yang tidak bisa dijangkau oleh Israel. Menurut mereka, jangankan menemukan sosok Yahya Ayyasy, sekadar mendapatkan berita keberadaannya saja tak mampu mereka peroleh. Kecerdikan Sang Muhandis ini membuat petinggi intelejen Syabak semakin geram sekaligus bimbang dalam menghadapi “drama” yang diperankan oleh Yahya Ayyasy.

Dan merupakan pukulan telak bagi Israel dan perangkat militernya, ketika Sang Muhandis berhasil menembus masuk ke Gaza City. Padahal ketika itu ia dalam pengawasan yang super ketat. Kali ini pun memaksa mereka harus keunggulan Sang Muhandis. Berita tentang keberhasilan Sang Muhandis masuk menyebrang kota Gaza – yang sudah dijaga ketat agar Yahya Ayyasy tidak bisa masuk – membuat Yitzak Rabin berang. Dalam sebuah rapat antara petinggi militer dan pihak intelijen Israel, Rabin sampai memukul meja rapat dengan nada marah dan suara sangat tinggi. Rabin meminta seluruh perangkat keamanan Israel – mulai dari polisi, tentara sampai satuan intelejen Syabak – memberikan keterangan bagaimana Yahya Ayyasy bisa lolos dan masuk ke Jalur Gaza. padahal sudah dijaga oleh ribuan polisi, mata-mata dan tentara. Rabin nampaknya kehabisan akal untuk mengetahui bagaimana negaranya bisa kecolongan oleh seorang Yahya Ayyasy, Sang Insinyur yang nampak kampungan.

Jihad, Menang Atau Mati Syahid

Karakter lain menyangkut syakhshiyah (pribadi) Yahya Ayyasy, adalah keteguhannya melanjutkan semua aktifitas jihad dan melanjutkan semua aksi melawan Israel, serta kesiapannya untuk mati syahid di jalan Allah. Beliau menolak usulan sebagian orang yang menganjurkan dirinya keluar dari Palestina dan lari ke negeri tetangga. Meskipun sebenarnya hal itu sangat memungkinkan baginya. Orang seperti Yahya Ayyasy itulah yang ditakuti oleh para pemimpin penjajah Israel. Ia ditakuti semua tentara Israel bahkan semua warga Israel akibat aksi yang dilakukan. Karenanya tidak mengherankan kalau warga Yahudi menyimpan baik-baik photo Sang Muhandis dan ditempel di kantor-kantor mereka. Orang seperti Yahya Ayyasy sangat menyadari bahwa setiap ajal kematian telah ditentukan oleh Allah SWT. Dan kesadaran ini merupakan bekal dasar bagi seorang mujahid seperti dirinya, untuk terus mlenjutkan jalan jihad fi sabililillah, kemudian ia wariskan seluruh ilmu dan pengalamannya kepada saudaranya sesama pejuang Palestina.

Karenanya, Muhandis Yahya Ayyasy sangat marah ketika ada sebagian teman seperjuangannya mengusulkan agar dirinya meninggalkan Palestina. Sebaliknya ia jawab usulan itu dengan mengatakan, “Itu mustahil, aku bernadzar kepada Allah bahwa diriku adalah untuk Allah, kemudian untuk agama Islam. Maka tidak ada pilihan bagiku kecuali kemenangan atau mati syahid, karena perang melawan Israel itu harus terus berlanjut sampai semua orang Yahudi keluar dari setiap jengkal tanah Palestina.”

(4)

Ia bagaikan halilintar yang ketika berhenti menggelegar, bukanlah pertanda berakhirnya hujan namun sebaliknya, hujan lebat nan deras baru dimulai. Begitulah Yahya Ayyasy, kesyahidan bukanlah akhir perjuangannya. Namun sebaliknya, kehidupan jihad di Palestina telah lahir kembali dengan semangat dan ruh baru.

Buronan Nomor Wahid

Berbagai keberhasilan Yahya Ayyasy dalam banyak aksi, membuat  pasukan keamanan Israel baik militer atau kepolisian tercabik-cabik. Ini yang membuat Sang Muhandis sebagai buron Israel nomor wahid. Mereka pun akhirnya memutuskan memburu Sang Mujahid selama hampir lima tahun. Aparat keamanan Israel mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap sang buron nomor wahid ini. Yaitu dengan membentuk Pasukan Khusus gabungan seluruh pasukan keamanan Israel antara militer, polisi dan intelejen. Pasukan khusus ini bertugas mengawasi setiap gerak-gerik Yahya Ayyasy. Untuk mengefektifkan system pengawasan terhadap, Pasukan Khusus ini akhirnya membentuk beberapa divisi yang dengan tugas masing-masing. Divisi satu bertugas mengkaji kepribadian dan kebiasaan hidup Yahya Ayyasy, divisi dua bertugas mengawasi seluruh teman-teman akrabnya dan divisi tiga bertugas mengawasi Yahya Ayyasy di setiap sudut kota, kamp pengungsian, hutan, gunung dan gua. Mereka ditugaskan mencari berita keberadaan Yahya Ayyasy selama dua puluh empat jam tanpa henti. Dengan kesigapan pasukan khusus itu, sehingga tidak satu sudutpun dari kota Tepi Barat yang lepas dari mata-mata pasukan khusus, untuk mencari Sang Pejuang legendaries, Muhandis Yahya Ayyasy.

Dalam banyak kesempatan Allah SWT telah menyelamatkan nyawa Yahya Ayyasy dari ancaman musuh-musuh Islam. Banyak kasus pengepungan tentara Israel yang gagal karena Ayyasy sudah mengetahuinya hanya beberapa menit sebelum mereka sampai ke tempat tujuan. Seperti kasus penyergapan yang terjadi di kampung Kashobah di kota Nablus dan di kampung Syeikh Ridhwan di Gaza City, yang mengakibatkan dua teman karib Sang Muhandis, Kamal Kahil dan Ibrahim Da’as gugur syahid.

Waktu penyergapan

Selama hampir empat tahun Yishak Rabin sibuk membuat rencana penangkapan terhadap Yahya Ayyasy, sampai-sampai ia posisikan Sang Muhandis sebagai target utama operasi penangkapan yang digelar militer Israel. Namun yang kemudian membuat semua kalangan terhenyak, baik internasional maupun regional Palestina, ketika tiba-tiba ia mati dibunuh seorang Yahudi radikal, di saat ia serius sibuk mempersiapkan penangkapan Yahya Ayyasy. Ia terbunuh sebelum pasukan intelejen Israel mampu menangkap Sang Muhandis. Dengan insiden terbunuhnya Yishak Rabin, berarti itu pukulan telak yang mencoreng kredibilitas lembaga keamanan Israel yang selama ini menjadi kebanggaan warga Yahudi. Mereka selama ini meyakini, bahwa intelijen Israel selalu berhasil mengungkap kejahatan sebelum terjadi.

Dinas intelijen yang selalu disebut-sebut sebagai yang paling bonafid di tingkat internasional, karena bisa mengungkap sebuah masalah dengan kemampuan meminimalisir perangkat yang digunakan dan kecepatan waktu yang tidak bisa disaingi oleh lembaga intelejen manapun, ternyata hanya isapan jempol belaka. Faktanya, mereka tidak bisa menjaga “bos” mereka sendiri dari telikung para pembunuh. Insiden itu sendiri telah membuat pamor lembaga intelejen Israel jatuh melorot tajam. Karena terbukti, lembaga itu tidak bisa berbuat apapun untuk negeranya. Bahkan menangkap seorang insinyur kampungan saja tidak mampu, terlebih menjaga Perdana Menteri mereka dari pembunuh. Dan ini membuat para petinggi militer Israel semakin kikuk menghadapi para pejuang Palestina dan tekanan dari warga Yahudi.

Sebagai solusi awal untuk mengembalikan pamor intelejen, keamanan dan militer Israel agar tidak hancur, mereka dituntut harus dapat melakukan sesuatu yang monumental di depan rakyat Israel. Tidak ada jalan lain bagi Shimon Peres, pengganti Rabin, menghabisi Yahya Ayyasy dan mencopot Kepala intelejen Syabak, Jendral Karemy Gilon. Itulah yang menjadi tuntutan kelompok-kelompok Yahudi, pencopotan Gilon sendiri baru dilakukan dua hari setelah penangkapan dan pembunuhan Sang Muhandis.

Pembunuhan Yahya Ayyasy sendiri, dalam prediksi sebagian besar kalangan militer dan pejabat pemerintahan Israel, menjadi satu-satunya solusi untuk mengembalikan pamor mereka yang hilang di tengah masyrakat Yahudi Internasional dan Israel akibat terbunuhnya Yitzaq Rabin. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menghabisi Yahya Ayyasy dengan berbagai strategi yang mereka susun secara apik. Para pejabat militer dan intelejen Israel ingin membuktikan diri mereka tetap yang terbaik dan berhak mendapat peghargaan dari warganya. Mereka juga ingin membuktikan bahwa pemerintahan sekarang mampu membalas, aksi-aksi musuh yang telah banyak menelan korban warga Yahudi. Karenanya, para pejabat militer Israel berusaha sekuat tenaga menjadikan Yahya Ayyasy sebagai Common Enemy warga Yahudi dan pemerintah secara bersamaan. Dan bahwasannya, dengan membunuh Yahya Ayyasy berarti dendam mereka sudah terbalaskan. Untuk lebih meyakinkan rakyatnya, militer Israel mengawali dengan membunuh banyak aktifis jihad dan tokoh pejuang Palestina seperti Fathy Syaqoqy, Hany Abid, Kamal Kahil, Ibrahim Annafar dan Mahmud Khawaba.

Selain itu sebagian kalangan militer dan intelejen Israel meyakini, selama ini Yahya Ayyasy sudah menjadi ‘’maskot’’ perlawanan dan jihad di Palestina. Ia sudah menjadi idola dan figure yang sangat berpengaruh bagi seluruh rakyat Palestina, baik dari gerakan Hamas ataupun dari gerakan perlawanan jihad lainnya. Sehingga dengan membunuhnya, berarti pemerintah Israel bisa menghentikan arus deras hawa jihad dan perjuangan yang sedang menggelora dan berkobar dalam dada setiap pemuda Palestina. Juga bisa meredam perlawanan total yang dilakukan pejuang Palestina yang selama ini banyak merepotkan pemerintah dan militer Israel. Mereka juga ingin memberi pelajaran kepada rakyat Palestina, bahwa perlawanan dan perjuangan mereka sudah berakhir. Bahwa rakyat Palestina harus realistis, karena tidak ada pilihan bagi mereka kecuali bekerja sama dengan Israel untuk menggalang perdamaian. Itulah ‘’khayalan” di benak dan otak para penjajah Israel.

Namun faktanya – walaupun pemerintah Israel berusaha meyakinkan semua pihak bahwa membunuh Yahya Ayyasy berarti menghentikan jihad – banyak kalangan dalam masyrakat Yahudi sendiri yang meragukan dan bahkan tidak percaya sama sekali, bahwa pembunuhan Yahya Ayyasy bisa menghentikan jihad dan perlawanan rakyat Palestina, serta mampu menghentikan perlawanan bersenjata yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan dan gerakan perlawanan Palestina.

Di kalangan masyrakat Palestina sendiri, pembunuhan Sang Muhandis – minimal bagi Hamas – telah memberi peluang untuk melakukan evaluasi bagi seluruh aktifitas jihad yang dilakukan selama ini, juga perjalanan Intifadhoh yang terbukti efektif membuat  pemerintahan Zionis kalang kabut. Dari evaluasi itu, Hamas bisa menghitung untung rugi dari insiden syhahidnya Sang Muhandis. Karena, walaupun kehilangan salah seorang pejuang handalnya, sesungguhnya gerakan Hamas mendapatkan keuntungan dari insiden itu. Karena senyatanya pemenang dari pertarungan adu strategi tersebut adalah Hamas dan rakyat Palestina.

Sementara Israel, yang memiliki kelengkapan persenjataan adalah pihak yang kalah. Realitanya, mereka tidak bisa menangkap Sang Muhandis di luar Jalur Gaza. Padahal mereka sudah mengusirnya dari Jalur Gaza sejak empat tahun sebelumnya. Israel baru bisa menangkap dan membunuhnya, justru ketika Sang Muhandis berhasil menerobos penjagaan ketat militer dan polisi Israel di setiap sudut dan perbatasan Gaza City. Dan faktanya, selama dalam jangka waktu yang sangat singkat – sekitar 10 hari sebelum akhirnya ia tertangkap – Yahya Ayyasy berhasil mengkoordinir anak buahnya untuk melakukan 4 aksi bom syahadah (mati syahid) beruntun yang menewaskan puluhan orang Yahudi. Ini merupakan keberhasilan Hamas dan Yahya Ayyasy pada khususnya. Karena, meskipun situasi dan kondisi keamanan juga penjagaan super ketat dilakukan oleh tentara Israel, ternyata mereka berhasil menjalankan aksinya tanpa bisa dicegah oleh Israel.

Jum’at kelabu

Tanggal 10 Sya’ban 1416 H bertepatan dengan tanggal 5 Januari 1996 M, jatuh pada hari Jum’at. Hari itu memang beda dengan hari Jum’at lainnya, ketika televisi Zionis di seantero Israel mengumumkan Yahya Ayyasy sudah terbunuh ditangan tentara Israel dalam sebuah operasi penangkapan atas dirinya. Seluruh tanah Palestina seakan bergetar, terlebih ketika berita itu menyebar ke setiap telinga para pecinta jihad. Getaran syahidnya Sang Muhandis telah membuat seluruh rakyat Palestina bersimpuh lumpuh dan diselimuti rasa sedih yang tiada tara. Antara perasaan ragu dan tidak percaya, berkecamuk menjadi satu tanpa bisa dihalau. Kesedihan itupun menjadi kenyataan, ketika akhirnya Hamas – tempat Yahya Ayyasy bernaung – mengungumkan secara resmi kesyahidan Sang Mujahid, Muhandis Yahya Abdul Lathif Syati Ayyasy pergi untuk selamanya, menyusul meramaikan barisan syhada’ Palestina.

Setelah malang melintang di jalan jihad, akhirnya Yahya Ayyasy mendapatkan apa yang ia cita-citakan, syahadah (mati syahid). Nampaknya telah tiba saatnya bagi Sang Mujahid menghadap Rabbnya.

Pada Jum’at pagi tanggal 5 Januari 1996, tangan-tangan kotor Zionis Israel merenggut nyawa sang mujahid. Setelah mereka menggunakan berbagai cara dan strategi tingkat tinggi, serta menggunakan teknologi canggih yang belum pernah digunakan oleh intelijen negara manapun. Yahya Ayyasy akhirnya gugur syahid setelah telepon genggam, milik salah satu temannya, yang ia gunakan ternyata sudah dipasang peledak oleh intelijen Israel, yang bekerja sama dengan aparat keamanan Otoritas Palestina.

Sesungguhnya Gerakan Perlawanan Islam Hamas – dengan syahidnya Sang Muhandis – yakin bahwa gerakan jihad dan perjuangan mengusir penjajah Israel tidak akan pernah berhenti. Perjuangan bangsa Palestina akan terus berjalan sampai cita-cita kemerdekaan tercapai dan hak-hak bangsa Palestina serta umat Islam dikembalikan. Sampai orang-orang Yahudi terusir dari Palestina. Itulah perjalanan jihad yang tidak ada pilihan lain kecuali dua hal; menang atau mati syahid!!

Seluruh isi Palestina menangis, deraian air membanjiri jalan-jalan Jalur Gaza. Seluruh seluruh penduduk Gaza, Nablus, Tulkarm dan Hebron bingung dibuatnya. Jum’at malam kelabu pun berlalu dengan sangat berat untuk dilewati oleh gunung-gunung, bukit-bukit dan seluruh manusia yang cinta akan jihad dan perjuangan. Dan ketika ombak-ombak berhenti berdesir menunggu kedatangan Sang Mujahid, tiba-tiba segerombolan orang berlomba berlari menuju rumah Sang Muhandis dibesarkan. Mereka memeluk penuh rindu, seraya bersumpah akan melakukan aksi balasan atas kebiadaban yang dipentaskan tentara Zionis Israel. Mereka begitu yakin dengan do’a ibunda Sang Muhandis, yang selalu mengatakan dalam dukanya, Rabbi wa Qolbi Rodhiina ‘Alaik: hatiku dan Tuhanku, telah rela melepaskan kepergianmua.

Sekiranya mereka boleh meminta dan mendapat kesempatan, pastilah setiap orang yang berta’ziah pada waktu itu ingin sekali menjadi orang yang menguburkan jenazah Sang Mujahid. Atau minimal mendapat kesempatan untuk menyaksikan wajah Sang Mujahid. Atau sekedar meraba telapak tangannya supaya bisa belajar bagaimana cara memukul musuh yang baik, serta bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini.

Saat itu, setiap orang mendadak menjadi jelmaan Yahya Ayyasy, dan Yahya Ayyasy sudah menjelma dalam jasad setiap orang yang datang melayatnya. Keagungan syahadahnya (mati syahid) telah membuat rakyat Palestina tidak rela hanya menjadikannya sebagai warga kampung Rafat saja, atau hanya menjadi “anak” Hamas semata. Karena kehidupan dan seluruh aktifitasnya, ia korbankan untuk seluruh tanah dan bangsa Palestina. Maka kesyahidannya pun harus menjadi milik seluruh rakyat Palestina. Dengan kesyahidan Sang Muhandis, rakyat Palestina diberi secercah cahaya harapan dan cita. Ia bagaikan halilintar yang ketika berhenti menggelegar, bukanlah pertanda berakhirnya hujan namun sebaliknya, hujan lebat nan deras baru dimulai. Begitulah Yahya Ayyasy, kesyahidan bukanlah akhir perjuangannya. Namun sebaliknya, kehidupan jihad di Palestina telah lahir kembali dengan semangat dan ruh baru.

Respon optimal yang diperlihatkan rakyat Palestina yang muncul akibat kesyahidan Yahya Ayyasy, mengindikasikan beberapa hal penting:

Pertama, merupakan polling spontan dengan hasil bahwa pilihan jihad dan perlawanan masih terus menggelora di dalam hati dan jiwa rakyat Palestina. Kedua, rakyat Palestina juga memastikan bahwa siapa saja yang berjuang untuk tanah dan bangsa Palestina dengan ikhlas dan bertanggungjawab, seperti Imad Aqil, Yahya Ayyasy, Iwadh Salma, Usamah Halas dan juga yang lainnya, akan mendapatkan tempat khusus di hati umat Islam dan rakyat Palestina. Itu dapat disaksikan dalam proses penguburan jenazah Imad Aqil dan Yahya Ayyasy. Ketika ratusan ribu rakyat mengiringi kepergianya.

Ketiga, bahwa rasa geram yang membara dari setiap orang yang mengantarkan jenazah Yahya Ayyasy, mengindikasikan rasa kemarahan dan kongesti rakyat Palestina terhadap musuh Zionis. Karena dengan Intifadhoh Al Aqsha, seluruh kebohongan dari kesepakatan dalam perjanjian dengan zionis Yahudi terungkap lugas.

(5)

عَلَى الْكَرِيْمِ أَنْ يَخْتَارَ اْلمَيْتَةَ الَّتِي يُحِبُّ أَنْ يَلْقَى اللهَ بها
فَنِهَايَةُ اْلإِنْسَانِ لابُدَّ أَنْ تَأْتِي مَا دَامَ َقدَرُ اللهِ نَفَذَ

“Orang terhormat akan memilih cara kematian yang dia cintai untuk berjumpa dengan Allah, karena akhir kesudahan seorang manusia pasti akan datang juga selama Allah telah mentakdirkan.”
(Muhandis Yahya Ayyasy)

Aksi-aksi Monumental Sang Muhandis

Ayyasy, yang menyalakan semangat perlawanan, lambang syahadah, sinar yang terus bersinar. Ia adalah cabang yang melahirkan ribuan tangkai, hingga iringan ‘’kafilah’’ syuhada’ terus berjalan sepanjang sejarah. Ia adalah bintang yang merangkul seluruh mujahidin dalam pengkuan syuhada. Ia adalah pohon selasih yang tumbuh di atas tanah Palestina, itulah sekuntum mawar yang terus menebar wewangian di atas tanah jihad Palestina. Begitulah kami mensifati seorang mujahid, Komandan Satuan Berani Mati dalam Brigade Izzuddin Al Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas.

Yahya Ayyasy, ia bukanlah manusia biasa dan bukan pula manusia yang miskin pengalaman dan bakat. Ia adalah seorang pribadi yang sulit ditemukan bandingannya di jaman ini, seorang mujahid yang sarat dengan pengalaman. Ia juga seorang komandan yang tegas, seorang mukmin yang wara’, jiwanya dipenuhi iman, ruhiyahnya dipenuhi kejernihan, cahaya dan takwa. Yahya Ayyasy, tumbuh dalam keluarga yang ta’at agama sehingga bekal pengetahuan agama ia terima langsung dari keluarganya. Itu pula yang membuatnya menjadi hafidz Al Qur-an Al Karim. Ayyasy selalu rangking dalam setiap fase pendidikanya dari sejak Sekolah Dasar sampai di Sekolah Menengah Umum. Ini pula yang membuat Ayyasy mengambil keputusan melanjutkan kuliah di fakultas teknik lsitrik di Universitas Beir Zeit, yang ia tuntaskan pada tahun 1991.

Di Kampus, Ayyasy merupakan mahasiswa teladan dengan prestasi istimewa di tempat kuliahnya. Meski demikian, kesibukan belajar di kampus tidak pernah menghalanginya untuk memikirkan kondisi rakyat dan bangsanya yang sedang berusaha mengusir penjajah Israel. Karena kepeduliannya  dengan kondisi bangsa dan umat Islam, maka ia memutuskan untuk mnggunakan kemampuan sesuai dengan bidang yang ia kuasai.

Ayyasy pun berusaha keras memberikan konstribusi perjuangan dengan membuat bahan peledak dan bom. Ia bahkan berhasil menciptakan banyak cara untuk meledakan bom dalam menjerat lawan. Ia juga sangat ahli dalam berkelit menghindari incaran Israel, serta gesit dalam bergerak. Terbukti, pada masa kepemimpinannya di Brigade Izzuddin al Qassam, aksi-aksi balasan ke target-target Israel tercatat paling dahsyah.

Salah satu kejeniusan Sang Muhandis adalah kemampuanya melakukan aksi bom syahid di daerah, yang menurut pengakuan pasukan keamanan Israel, sudah steril dari gangguan kemanan pihak manapun. Karena sudah dijaga ketat oleh tentara dan polisi Israel. Setelah berhasil melakukan berbagai aksi bom syahid ke markas-markas militer Israel dan kantor-kantor pusat pemerintah Israel, pasukan berani mati Brigade Izzuddin al Qassam berbagai aksi susulan pun siap dilancarkan. Di antara aksi-aksi bom syahadah yang paling monumental, yang diarsiteki oleh Sang Muhandis adalah:

1. Pada 6 April 1994. Seorang aktifis Brigade al Qassam, asy Syahid Raid Zakarina berhasil meledakan mobil penuh bahan peledak di dekat bus Israel di kota Ufulah. Aksi tersebut mengakibatkan sedikitnya 8 orang Israel tewas dan  30 orang lebih luka-luka. Menurut pernyataan resmi Hamas, aksi bom syahadah tersebut dilakukan sebagai aksi balasan atas pembantaian yang dilakukan oleh kelompok Yahudi radikal terhadap jama’ah muslim yang sedang sholat di masjid al Ibrahimy di kota Hebron.

2. Pada 13 April 1994. Terjadi aksi bom syahadah yang dilakukan oleh salah satu kader Hamas yang bernama Ammar Amarinah. Dengan membalut bom di badannya, Ammar ke dalam bus Israel di kota Khadhira dan meledakkan dirinya. Akibatnya, sekitar 5 orang Zionis tewas dan 10 orang lainnya luka-luka.

3. Pada 19 Oktober 1994. Seorang aktifis Hamas, Sholih Nazal yang juga anggota Pasukan Berani Mati Brigade al Qassam meledakan bom yang diikat pada tubuhnya dalam sebuah kendaraan umum Yahudi di jalan Deiz Naguf di kota Tel Aviv. Aksi tersebut mengakibatkan, sedikitnya, 22 orang Yahudi tewas dan melukai sekitar 40 orang lebih.

4. Pada 25 Desember 1994. Seorang anggota polisi Palestina, Usamah Radhi yang juga anggota rahasia Brigade al Qassam meledakan bom  syahid dekat kendaraan militer Israel dan berhasil melukai 13 orang anggota militer Israel.

5. Pada 22 Januari 1995. Dua orang pejuang Palestina meledakan dirinya di maskas militer Zionis Israel di daerah Beit Leid, dekat daerah Nataniya. Aksi tersebut mengakibatkan 23 orang anggota militer Israel terbunuh dan melukai sekitar 40 orang lainnya. Aksi tersebut disinyalir merupakan aksi yang paling besar dari aksi-aksi sebelumnya. Menurut hasil penelitian dan pemeriksaan pihak militer Israel, dalam bahan peledak berhasil ditemukan sidik jari Yahya Ayyasy.

6. Pada 9 April 1995. Dua gerakan jihad Palestina, Hamas dan Jihad Islam, melancarkan dua aksi bom syahadah terhadap Pemukiman Yahudi di Jalur Gaza. Yang mengakibatkan tujuh orang pemukim Yahudi terbunuh. Dua aksi ini dilakukan sebagai aksi balasan terhadap kejahatan yang dilakukan oleh  pasukan intelejen Israel yang meledakan satu rumah penduduk di kampung Syeikh Ridwan, yang menelan korban 5 orang Palestina mati syahid, salah satu korbannya adalah Kamal Kahil salah seorang komandan Brigade al Qassam.

7. Pada 24 Juli 1995. Salah seorang pejuang Palestina, yang juga murid Sang Muhandis dalam kesatuan Pasukan Berani Mati Brigade al Qassam, meledakan bom syahid dalam sebuah bus Zionis Israel di daerah Ramat Ghan, dekat kota Tel Aviv.  Aksi tersebut  menewaskan sedikitnya 6 orang Yahudi dan melukai sekitar 33 orang lainnya.

8. Pada 21 Agustus 1995. Serangan bom syahid terjadi dalam kendaraan umum di kampung Ramat Asykul, di kota Jerusalem. Mengakibatkan 5 orang Yahudi tewas dan 100 orang lebih terluka. Setelah kejadian tersebut, murid-murid Sang Muhandis langsung mengatakan bahwa mereka bertanggungjawab atas aksi di Ramat Asykul.

Itulah sepenggal cerita tentang kehidupan Sang Muhandis yang diwarnai oleh izzah dan keagungan. Sosok yang telah mengisi setiap detik umurnya dengan hal yang sangat istimewa. Yang membuat namanya terukir dalam deretan nama para pahlawan umat ini. Ia menjadi symbol dan figure yang diikuti oleh para generasi penerus jihad. Lembaran kehidupannya menjadi rujukan tarbiyah setiap pejuang kebenaran. Itu karena, pada hakikatnya, Yahya Ayyasy merupakan sosok yang menjelma dari sebuah “madrasah” yang mendidik kemuliaan akhlaq, pentingnya pengorbanan, jihad fi sabilillah dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan hawa nafsu pribadi yang sempit.

فَتَشَبَّهُوْا إِن لمَّ ْتَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ  إِنَّ التَّشَبُّهَ بِاْلكِرَامِ فَلاَّحٌ

berusahalah meniru mereka

walaupun tidak bisa persis sama

sungguh, meniru orang yang mulia

adalah suatu kemenangan

Inilah target utama dan tujuan dasar kami menulis kembali mengenai sosok Sang Legendaris. Agar  Yahya Ayyasy bisa tetap menjadi symbol perjuangan bagi seluruh umat Islam, meskipun  kini ia sudah meninggalkan kita. Selain itu, kami juga ingin menjaga daya ingat umat islam akan makna seorang pahlawan, khususnya di tanah suci Palestina. Ini menjadi sangat urgen karena rakyat Palestina sedang menghadapi konspirasi musuh internasional yang ingin menghapus dan menghalangi jalan menuju semangat jihad yang baru. Yang memang sangat membutuhkan figure-figure handal. Walaupun kita juga sangat yakin bahwa musuh-musuh agama Allah itu tidak akan berhasil menghalangi lahirnya kembali para mujahid baru. Karena yang melahirkan Yahya Ayyasy menjadi seorang pahlawan, juga masih terus akan melahirkan pahlawan –pahlawan baru, orang-orang yang akan tetap consern dengan jihad.

Inilah dien Islam, dengan akidah, syariat dan keagungan ajaranya, dengan kitab suci Al Qur-an, Sunnah Rasul dan sejarah para pahlawannya yang suci, akan terus melahirkan pejuang-pejuang sejati. Selalu tunduk mengikuti sunnatullah “gugur satu tumbuh seribu’‘; kullama ghaba kaukabun thala’a kaukabun akhar: setiap kali terbenam bintang yang satu, akan segera muncul bintang yang lain. Begitulah sunnah para pejuang Islam, ketika satu pejuang hilang, akan lahir satu atau bahkan lebih pejuang yang lainnya, bahkan dengan kemampuan yang sangat kuat untuk menyinari malam yang gelap gulita.

إِذَا مَاتَ مِنَّا سَيِّدٌ قَامَ سَيِّدٌ  قُؤُوْلٌ لِمَا قَالَ اْلكِرَامُ فَعُوْلُ

apabila satu pejuang telah hilang

akan datang pengganti yang lebih berpengaruh

semua orang akan mengikuti apa yang dikataka

Semoga Allah SWT. mengasihi orang yang kita cintai, Sang Munhadis, pencetak pejuang berani mati, arsitek dan ahli strategi, Yahya Abdul Latif Syathi Ayyasy. Semoga Allah menerimanya, juga semua syuhada dalam barisan hamba-Nya yang diridhai. Dan semoga Allah menolong semua pejuang penerus Sang Muhandis yang sedang berjalan di atas jalan jihad peninggalannya.

Generasi Islam yang agung, inilah jalan dan penunjuk yang benar! Jalan manakah yang akan kita lalui? Saudaraku, berjalanlah di jalan yang diberkahi Allah, yakinlah akan tibanya pertolongan-Nya. Yakinlah, Allah selalu bersama dan tidak akan meninggalkan kita. In tanshurullaaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum; jika kalian menolong (agama) Allah, pasti Dia menolong kalian serta meneguhkan kaki-kaki kalian. 

Read Full Post »

sumber : Al Mustasyar Abdullah Al Aqil/ Al I’thisom

Syaikh Said Hawa bin Muhammad Dib Hawwa lahir di kota Hamah, Suriah, tahun 1935. Ia berusia 2 tahun ketika ibunya meninggal dunia. Ia pindah ke rumah neneknya di bawah asuhan sang ayah, seorang pejuang pemberani yang berjihad melawan perancis. Pada masa mudanya berkembang pemikiran sosialis,Nasional, Ba’ats, dan Ikhwanul Muslimin. Allah memberikan kebaikan untuknya dengan bergabung ke dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin, tahun 1952, saat ia masih pelajar SMU.

Said Hawwa berguru pada beberapa syaikh Suriah. Diantaranya Syaikh dan Ulama Hamah, Syaikh Muhammad Al hamid, Syaikh Muhammad Al Hasyimi, Syaikh Abdul Wahab Dabas, Syaikh Abdul Karim Arrifa’i, Syaikh Ahmad Al Murad dan Syaikh Muhammad Ali Murad. Said Hawwa juga belajar pada ustadz seperti Musthafa As-shiba’i, Mushthafa Az-Zarga, Fauzi Faidhullah, dan lain2.

Tahun 1961 ia lulus dari Universitas Suriah, megikuti wajib militer sebagai perwira tahun 1963, menikah tahun 1964, dan dikaruniai empat orang anak.

Aktifitas Dakwah Said Hawwa

Said hawwa memberi kuliah, khutbah, dan ceramah, di Suriah, Arab Saudi, Kuwait, Emirat, Irak, Yordania, Mesir, Qatar, Palestina, Amerika dan Jerman. Ia juga berperan bahkan mengoordinir demonstrasi menentang Undang-Undang Suriah tahun 1973. Kemudian dia dijebloskan penjara selama 5 tahun. Dipenjara dia menulis buku tafsir Al-Asas Fit Tafsir (dua belas jilid) dan sejumlah buku dakwah lain. Ia memimpin di Jama’ah Al Ikhwanul Muslimin, dilingkup nasional dan internasional. Serta berperan aktif dalam aktifitas dakwah, politik dan jihad.

Said Hawwa punya andil besar dibidang pendidikan. Ia bekerja sebagai pengajar diluar Suriah. Ia mengajar di Arab Saudi selama 5 tahun, kota Al Hufuf wilayah Al Ihsa selama 2 tahun, dan Madinah Al Munawwarah selama tiga tahun.

Jejak-Jejak Kebaikan dan Warisan Ilmiah Said Hawwa

Said hawwa punya jadwal memberi pelajaran, dialog, dan ceramah, di Jami’iyah Al Ishlah Al Ijtimia’i di Kuwait dan Madrasah An najah. Ceramahnya mendapat respon positif dari generasi muda kebangkitan Islam.

Karya-karya Said Hawwa

Said Hawwa memiliki karya tulis seputar dakwah dan gerakan, yg diminati para pemuda muslim dinegeri2 arab dan islam. Sebagian besar karya tulisnya diterjemahkan ke bahasa lain.
Diantara karangan yg telah diterbitan sebagai berikut:
1. Allah Jalla Jalaluhu
2. Ar rasul Shallallahu alaihi wassalam
3. Al islam
4. Al asa fit tafsir
5. Tarbiyatuna Arruhiyah
6. Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan
7. dan lain-lain

Pulang ke Rahmatullah

tahun 1987 Syaikh Said Hawwa terkena stroke, hingga sebagian anggota badannya lumpuh. Ia juga mengalami komplikasi berbagai penyakit. Ini memaksanya jauh dari masyarakat dan harus di opname.

pada tanggal 14 desember 1988 Said Hawwa diopname di rumah sakit dan kondisinya tak kunjung membaik, hingga wafat pada hari kamis tanggal 9 maret 1989 di rumah sakit Amman, Jordania.
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Al akh Said hawwa yang sabar terhadap komplikasi penyakit, penyiksaan, dan ujian meyakitkan di penjara selama bertahun tahun. Semoga Allah menjadikan itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikannya, mengampuni kita, dan mengumpulkan kita di bersama para nabi, orang orang shiddiq, syuhada, dan orang-orang shalih, karena mereka sebaik-baik teman. amiiin

Read Full Post »

Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran (1137 – 1193 M)
Posted by: Admin on Sunday, May 22, 2005 – 01:15 PMHudzaifah.org – SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.

Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui “Siratun Nabawiyah”. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.

Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.

Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.

Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.

“Setiap cara dan jalan ditempuh”, kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.

Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.

“Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar” demikian tulis pengarang Perancis Michaud.

Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui” kata Marbaid.

Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill “terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.

Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.

John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: “Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. “Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,” kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.

Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.

Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?

Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.

Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud “memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.”

Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: “Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda”.

Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.

Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.

Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.

Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.

Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.

Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: “Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan.” Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.

Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.

Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.

Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.”

Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. “Semua tawanan” kata Michaud, “yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.”

Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.

Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.”

Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.

Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: “Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.”

Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.

Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. “Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem,” kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. “Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,” kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.

Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.

Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.

Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.

Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.

Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.

“Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu” tulis Michaud “di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.

Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.

Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. “Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin” demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.

Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. “Di Eropa” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.

Semoga Allah melapangkan kuburnya.

Read Full Post »

Read Full Post »

Mujahideen di Iraq

Read Full Post »